Trik Agar Segera Memperoleh Jodoh untuk Para Jomblo

posted on 26 Sep 2015 16:46 by pakargayahidupweb
Jodoh / pasangan hidup baik suami untuk keturunan wanita atau induk beras untuk kaum lelaki sudah ditakdirkan dan diciptakan sendiri-sendiri sebab Tuhan. Semua tutup diatur. Bahkan katanya ada peribahas pasangan di tangan Tuhan. Tapi ada pasangan yang lebih pandai yaitu jodoh ditangan hansip hehehe. Namun yang ditangan hansip jangan ditiru akur.

Artikel santai Cari Jodoh saat malam minggu terkait saya persembahkan untuk para jomblo dimanapun berada. Ingat jomblo itu tidak dosa dan bahkan berpahala. Buat apa pacaran kalau hanya menambun dosa. Karena bukan sedikit yang bersuka-sukaan tapi sudah melakukan hal-hal tabu secara dilarang agama olehkarena itu dilakukan sebelum diresmikan oleh KUA / diberkati di Gereja. Jadi lebih baik menjomblo terhindar atas dosa.

Tapi menjomblolah dengan bijak, tak untuk pelarian. Sebab jika anda menjomblo untuk pelarian oleh sebab itu anda bisa sebagai jomblo untuk selama-lamanya. Hiii serem kan. Makanya ikuti trik ini agar anda tidak menjadi jomblo abadi dan lekas mendapatkan jodoh ataupun pasangan hidup anda.

Saya pernah menafsirkan di suatu kisah ada murid secara bertanya perbedaan jurang cinta dan teman kepada gurunya. Lantas sang guru merayu muridnya itu menyerap kehutan untuk menelaah bunga yang paling bagus menurut si murid dan dibatasi sampai sore tarikh harus sudah merosot. Kemudian si murid memasuki hutan mengatasi bunga yang menurutnya paling indah. Di perjalanan ia memperoleh bunga itu. Tetapi tidak jadi dipetiknya dia berpikir jangan-jangan di depan masih ada yang lebih mempesona lagi. Kemudian dia melanjutkan mencari kehutan lebih dalam sedang. Hari hampir sebelah petang bunga belum didapatkan. Akhirnya diapun meraih setangkai sematan yang biasa-biasa aja agar bisa untuk menghadap gurunya. Menimbang batas waktu hampir kesimpulan.

Dari peristiwa tersebut sang guru menafsirkan cinta itu adalah keinginan yang siap dari semua insan di dunia. Adapun jodoh itulah secara bisa diraih serta diperoleh dan sudah ditentukan untuknya. Menjadi boleh kita mengikuti yang cantik sugih baik hati, tapi tegak bahwa tak seluruh itu mudah kalian dapatkan. Sedangkan teman hidup itulah milik & rejeki kita, baik dan buruknya kitalah yang merawatnya lantas. Bunga yang tidak demi indah bisa aku rawat dengan maksimum kasih sayang sehingga komplemen itu akan sebagai bunga yang utama bagi kita.



Atas kisah diatas kalian bisa menyimpulkan bahwa cinta itu merupakan harapan, sedangkan teman hidup adalah pilihan. Tak semua pilihan cocok harapan. Dan jika kita telah memilih, jadikanlah pilihan kita itu menjadi harapan serta rawatnya sehingga ia memenuhi harapan aku.

Jadi mana tipsnya? Tipsnya hanya bersahaja segera jatuhkan pilihanmu, jangan tunggu mampu, jangan tunggu sanggup yang cantik atau ganteng, jangan tunggu hal-hal yang menciptakan kamu kehilangan zaman. Manusia telah diberi rejeki masing-masing oleh Nya. Jangan tegak susah setelah teraduk. Setelah menikah rejeki akan berlipat 2 setelah punya anak, anak juga memiliki rejekinya yang dititipkan melalui tangan aku.

Menikmati Lautan juga Mendaki Gunung Anak Krakatau

posted on 26 Sep 2015 16:31 by pakargayahidupweb
Di terminal Pedalaman Rambutan, terlihat kurang lebih pemuda-pemudi dengan tas punggung warna-warni suka bercengkerama. Salah satunya merupakan saya. Kami menyukai bus malam dengan akan membawa kami ke pelabuhan Merak. Tujuan liburan kita kali ini adalah Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda.

Masih banyak dengan menyebutnya sebagai open trip gunung krakatau, padahal Krakatau sudah meletus secara hebatnya pada tahun 1883 hingga menyingkirkan kurang lebih 36. 000 jiwa. Saat tersebut, seluruh dunia diselimuti suasana yang kelam dan mencekam. Taklimat letusannya terdengar muncul 4600 kilometer jauhnya, semburan debu vulkaniknya mencapai 80 meter dan muntahan batu vulkaniknya berhamburan di Sri Lanka, India, Pakistan, Australia serta Selandia Baru.

Dari sisi sejarawan, Gunung Krakatau pun masih punya "ibu" yaitu Gunung Krakatau Purba (Gunung Batuwara) yang ketika meletus memisahkan pulau Jawa dan Sumatera. Tepi-tepi kawah Krakatau Purba dikenal dgn Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Darat Sertung.



Kami berangkat menuju pelabuhan Merak dari terminal Kampung Rambutan dengan turun bus yang ongkosnya 17. 000 rupiah (sebelum bbm naik) pukul 23. 50 dan tiba jam 4. 10 subuh. Tungpeng selaku kepala rombongan langsung mengiringi kami semua di loket kapal ASDP dan menyeberang ke Bakauheuni, Lampung.

Selama 2, 5 weker perjalanan laut, kita hanya duduk berembuk di dek bahtera sambil makan cemilan dan menikmati hembusan angin laut. Saking asyiknya, tidak terasa langit sudah terbuka dan tahu-tahu bahtera sudah tiba dalam Lampung.

Turun dibanding kapal, kami sinambung mencari angkot buat disewa ke sandaran Canti, tempat yang mana kami akan dijemput oleh kapal gawang mengeksplor kawasan Anak Krakatau. Karena lapar, kami sempat keluar di tengah-tengah pelancongan untuk makan cepat di sebuah warung nasi dan sulit jalan lagi.

Matahari belum tinggi saat kami tiba pada dermaga Canti. Beker menunjukkan pukul tujuh. 40. Terlihat kulit kayu yang kita sewa sudah menunggu.

Harga sewa bahtera kayu ini sekitar 2-2. 5 juta per kapal dgn maksimal penumpang 20 orang. Ketika diberitahu bahwa nanti di perjalanan menuju Pulau Sebesi (tempat kami menginap) kami dengan snorkeling di korong Pulau Sebuku, segala langsung bergegas ke kamar mandi serta berganti baju renang. Sehingga ketika kita sampai di Sebuku, semuanya siap nyebuuuuuurrrr....

Berpapasan dengan rumpun lokal yang padahal menyeberang dari Sebesi menuju Dermaga Canti. Motor juga diangkutnya pakai kapal ini. Saking ramahnya mereka melambaikan tangan.

Kenyang bermain air dalam Sebuku yang biru, kapal bertolak menentang pulau Sebesi. Kami langsung diantarkan ke guest house milik Pemerintah daerah serta dibagi dua bulan, perempuan dan pria. Satu kamar mampu menampung 10-20 orang-orang dengan tarif 200 ribu per malam. Kalau musim liburan, rumah-rumah penduduk pula disewakan untuk wisatawan. Oh ya, listrik hanya hidup dari jam 06. 00 sore hingga 00. 00 WIB.

Melihat Lautan serta Mendaki Gunung Anak Krakatau

posted on 26 Sep 2015 16:30 by pakargayahidupweb
Di terminal Kampung Rambutan, terlihat kaum pemuda-pemudi dengan tas punggung warna-warni suka bercengkerama. Salah satunya merupakan saya. Kami menyambut bus malam secara akan membawa kami ke pelabuhan Merak. Tujuan liburan kita kali ini adalah Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda.



Masih banyak dengan menyebutnya sebagai open trip gunung krakatau, padahal Krakatau sudah meletus dengan hebatnya pada tahun 1883 hingga mengikat kurang lebih 36. 000 jiwa. Saat ini, seluruh dunia diselimuti suasana yang saru dan mencekam. Talun letusannya terdengar lalu 4600 kilometer jauhnya, semburan debu vulkaniknya mencapai 80 meter dan muntahan karang vulkaniknya berhamburan ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia serta Selandia Baru.

Dari sisi sejarawan, Gunung Krakatau pun masih mempunyai "ibu" yaitu Gunung Krakatau Purba (Gunung Batuwara) yang begitu meletus memisahkan darat Jawa dan Sumatera. Tepi-tepi kawah Krakatau Purba dikenal secara Pulau Rakata, Daratan Panjang dan Daratan Sertung.

Kami pergi menuju pelabuhan Merak dari terminal Kampung Rambutan dengan memanjat bus yang ongkosnya 17. 000 rupiah (sebelum bbm naik) pukul 23. 50 dan tiba umumnya 4. 10 subuh. Tungpeng selaku penuntun rombongan langsung mengiringi kami semua di loket kapal ASDP dan menyeberang ke Bakauheuni, Lampung.

Selama masa 2, 5 weker perjalanan laut, aku hanya duduk berdiskusi di dek kulit sambil makan cemilan dan menikmati hembusan angin laut. Saking asyiknya, tidak berasa langit sudah terbuka dan tahu-tahu kapal sudah tiba dalam Lampung.

Turun atas kapal, kami refleks mencari angkot untuk disewa ke dermaga Canti, tempat dimana kami akan dijemput oleh kapal kayu mengeksplor kawasan Anak Krakatau. Karena lapar, kami sempat habis di tengah-tengah pelancongan untuk makan cepat di sebuah warung nasi dan sulit jalan lagi.

Matahari belum tinggi tatkala kami tiba di dermaga Canti. Jam menunjukkan pukul 7. 40. Terlihat bahtera kayu yang aku sewa sudah menuntut.

Harga sewa kapal kayu ini lebih kurang 2-2. 5 juta per kapal secara maksimal penumpang 20 orang. Ketika diberitahu bahwa nanti di perjalanan menuju Pulau Sebesi (tempat aku menginap) kami dengan snorkeling di kawasan Pulau Sebuku, semata langsung bergegas di kamar mandi serta berganti baju renang. Sehingga ketika kita sampai di Sebuku, semuanya siap nyebuuuuuurrrr....

Berpapasan dengan suku lokal yang sedang menyeberang dari Sebesi menuju Dermaga Canti. Motor juga diangkutnya pakai kapal ini. Saking ramahnya itu melambaikan tangan.

Lega bermain air di Sebuku yang biru, kapal bertolak menunjukkan pulau Sebesi. Kita langsung diantarkan ke guest house milik Pemerintah daerah & dibagi dua lajur, perempuan dan cowo. Satu kamar sanggup menampung 10-20 sosok dengan tarif 200 ribu per malam. Kalau musim liburan, rumah-rumah penduduk pula disewakan untuk wisatawan. Oh ya, listrik hanya hidup mulai jam 06. 00 sore hingga 00. 00 WIB.